About Me

header ads

Hari Ayah: Tentang Sosok yang Kadang Diam, Tapi Selalu Ada

Dokpri Moment Wisuda 27092025

Oleh: Aziz Aminudin, M.Pd
Trainer & Profesional Hipnoterapi – MPC Training Center & Griya Hipnoterapi MPC


Kadang, cinta seorang ayah tidak selalu hadir dalam kata-kata. Ia tidak selalu bisa mengekspresikan kasihnya lewat pelukan, atau meneteskan air mata saat rindu. Namun, di balik diam dan langkahnya yang sering terburu-buru, ada cinta yang dalam, ada tanggung jawab yang tidak pernah padam. Dan setiap 12 November, kita diingatkan untuk berhenti sejenak menyapa sosok itu dengan sebaris kalimat sederhana: “Terima kasih, Ayah.”


Dari Sebuah Pertanyaan Anak, Lahir Sebuah Hari

Hari Ayah di Indonesia tidak lahir dari keputusan negara, tapi dari hati masyarakat. Tahun 2006, sebuah organisasi bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) mengadakan lomba menulis surat untuk Hari Ibu.
Dari situ, banyak anak yang bertanya polos:

“Kalau ada Hari Ibu, kenapa tidak ada Hari Ayah?”

Pertanyaan sederhana itu menggugah banyak hati. Maka pada 12 November 2006, di Surakarta (Solo), dideklarasikanlah Hari Ayah Nasional, dan serentak di beberapa kota lain di Indonesia. Sejak hari itu, tanggal 12 November menjadi momen untuk mengenang dan merayakan cinta yang mungkin tidak selalu diucapkan cinta seorang ayah.


Sosok yang Jarang Bicara, Tapi Banyak Berbuat

Ayah sering kali hadir dalam bentuk yang tidak kita sadari.
Ia mungkin bukan sosok yang rajin bertanya “Kamu kenapa, Nak?”
Tapi ia diam-diam memeriksa pintu setiap malam, memastikan rumah terkunci dan semua orang aman.
Ia mungkin tidak pernah mengatakan “Aku bangga padamu,”
tapi diam-diam menyimpan foto kita di dompet lusuhnya, atau bercerita tentang kita dengan mata berbinar kepada rekan kerjanya.

Cinta ayah adalah cinta yang tenang. Ia tidak selalu datang dengan bunga, tapi hadir dalam bentuk tanggung jawab.
Ia bukan hanya pencari nafkah, tapi penjaga harapan.
Ia bukan sekadar kepala keluarga, tapi fondasi tempat kita berdiri.


Tantangan Ayah Zaman Sekarang

Menjadi ayah di masa kini bukan hal mudah. Dunia berjalan cepat, pekerjaan menuntut banyak, dan waktu bersama keluarga sering tergeser oleh layar ponsel.
Banyak ayah yang terjebak dalam dilema: ingin hadir, tapi lelah; ingin mendengar, tapi waktu tak banyak.
Padahal, kehadiran ayah adalah vitamin batin bagi anak—lebih berharga dari hadiah apa pun.
Anak tidak butuh ayah yang sempurna, hanya ayah yang mau hadir dengan hati.


Cara Sederhana Merayakan Hari Ayah

Merayakan Hari Ayah tidak harus dengan pesta besar.
Cukup dengan hal-hal sederhana yang tulus:

  • Duduk bersama di meja makan tanpa gangguan ponsel.
  • Menulis surat atau pesan kecil berisi rasa terima kasih.
  • Mengajak ayah melakukan hal yang ia sukai—mungkin secangkir kopi bersama, atau jalan santai sore hari.
  • Bagi seorang ayah, diucapkan “Terima kasih sudah berjuang untuk kami” sering kali lebih menyentuh dari apa pun.

Bagi sekolah dan komunitas, Hari Ayah bisa menjadi momentum edukatif: mengundang para ayah berbagi kisah, belajar bersama anak, atau sekadar hadir dalam kegiatan kecil yang penuh makna.


Refleksi Seorang Ayah dan Terapis

Sebagai trainer dan profesional hipnoterapi, saya sering bertemu orang dewasa yang menyimpan luka lama karena hubungan dengan ayahnya.
Banyak dari mereka tidak membenci ayahnya mereka hanya merindukan kalimat yang tidak pernah diucapkan, pelukan yang tidak sempat diberikan.
Namun, kabar baiknya: hubungan dengan ayah selalu bisa diperbaiki, kapan pun.
Cukup dengan keberanian untuk membuka hati, menatap mata ayah, dan berkata, “Aku mencintaimu, Yah.”

Karena di balik kekakuannya, setiap ayah adalah manusia yang juga belajar mencintai dengan caranya sendiri.
Mereka tidak selalu tahu bagaimana menunjukkan kasih, tapi mereka selalu berusaha menjaga agar kita tidak kekurangan cinta.


Penutup

Hari Ayah bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan ajakan untuk menyadari kehadiran sosok yang sering terabaikan.
Di balik kerasnya wajah, di balik langkah yang kadang terdiam, ada hati yang selalu ingin memastikan kita baik-baik saja.
Maka, di tanggal 12 November ini, mari kita hentikan sejenak kesibukan.
Telepon ayah, peluk dia jika masih ada, doakan jika sudah tiada.
Dan ucapkan dalam hati:

“Terima kasih, Ayah, sudah menjadi bagian terbaik dalam perjalanan hidupku.”


Aziz Aminudin, M.Pd
Trainer & Profesional Hipnoterapi
MPC Training Center & Griya Hipnoterapi MPC
Refleksi Kehidupan — untuk keluarga yang lebih sadar, hangat, dan bahagia.