![]() |
| Dokpri - Pembuktian Hipnosis untuk Mahasiswa UMUS |
Brebes, 2011 – Merintis karir sebagai hipnoterapis pemula di tengah kesibukan bekerja di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Brebes bukanlah hal yang mudah. Selain menjalankan tugas sebagai Pencari dan Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S), Aziz Amin juga mulai mendalami ilmu hipnosis dan hipnoterapi. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus, terutama saat harus menghadapi tantangan skeptis yang menguji keyakinannya. Salah satu momen yang paling berkesan terjadi dalam kegiatan Donor Darah Sukarela di Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes—sebuah peristiwa yang mengubah cara banyak orang memandang hipnoterapi.
Tantangan yang Tidak Terduga
Hari itu, suasana di aula kampus UMUS cukup ramai. Mahasiswa berdatangan untuk mendonorkan darah, sementara tim PMI sibuk dengan proses registrasi dan pemeriksaan awal. Sebagai salah satu staf UDD PMI, Aziz Amin turut serta memberikan edukasi tentang pentingnya donor darah. Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bagaimana hipnoterapi dapat membantu mengatasi ketakutan terhadap jarum atau darah, sesuatu yang sering menjadi hambatan bagi pendonor pemula.
Namun, di tengah sesi sosialisasi, seorang mahasiswa tiba-tiba muncul dengan sikap menantang. Dengan nada meremehkan, ia berkata:
"Kalau memang hipnoterapi itu efektif, buktikan! Saya sudah lima kali dihipnotis teman-teman saya, dan tidak pernah berhasil! Saya ini orang yang susah dihipnotis, kritis, dan nggak gampang percaya."
Pernyataan itu sontak menarik perhatian banyak mahasiswa lain. Beberapa mulai berkerumun, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aziz Amin tersenyum dan menanggapi dengan tenang, menolak tantangan tersebut. Ia menjelaskan bahwa hipnoterapi bukan ajang pembuktian atau permainan, melainkan teknik yang bekerja dengan kesiapan dan kesadaran seseorang.
"Hipnosis bukan sulap atau trik instan. Jika niatmu hanya ingin menjatuhkan saya, maka saya tidak akan melakukannya," jawab Aziz dengan tegas.
Namun, bukannya mundur, si mahasiswa justru semakin gencar mengejek. Ia mulai menghina dan meragukan keahlian Aziz Amin, bahkan menyebut hipnoterapi sebagai omong kosong belaka.
Saatnya Pembuktian
Situasi semakin memanas. Banyak mahasiswa yang menyaksikan, dan beberapa bahkan ikut-ikutan mempertanyakan efektivitas hipnosis. Tak ingin perdebatan ini berlarut-larut, akhirnya Aziz Amin menyepakati tantangan tersebut.
Ia meminta mahasiswa tersebut duduk tenang dan mengikuti instruksinya dengan santai. Dengan teknik yang tepat, suara yang terkontrol, dan metode yang terstruktur, Aziz mulai membimbing pemuda itu ke dalam kondisi hipnosis.
Awalnya, mahasiswa itu masih berusaha melawan. Namun, dalam hitungan menit, ekspresinya berubah. Matanya terasa berat, tubuhnya melemas, dan akhirnya ia tergolek tanpa daya dalam kondisi hipnosis di hadapan semua orang.
Kerumunan yang sebelumnya penuh dengan ejekan kini berubah menjadi keheningan yang luar biasa. Teman-temannya yang tadinya ikut meremehkan kini terdiam, menyaksikan bagaimana seseorang yang mengklaim "tidak bisa dihipnotis" ternyata dengan mudah masuk ke dalam kondisi hipnosis.
Setelah beberapa saat, Aziz membangunkannya dengan perlahan. Si mahasiswa tampak kebingungan, lalu menatap Aziz dengan ekspresi yang berbeda—bukan lagi meremehkan, tetapi penuh dengan rasa hormat dan ketidakpercayaan terhadap apa yang baru saja dialaminya.
"Saya benar-benar nggak sadar tadi... Ini beneran ya? Bukan rekayasa?" katanya dengan nada masih tak percaya.
Aziz hanya tersenyum. "Sekarang, masih berpikir kalau hipnoterapi itu omong kosong?"
Mahasiswa itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Dari Skeptis Menjadi Percaya
Setelah kejadian itu, suasana berubah drastis. Banyak mahasiswa yang tadinya skeptis justru mulai tertarik untuk bertanya lebih dalam tentang hipnoterapi. Bahkan, beberapa yang awalnya takut mendonorkan darah akhirnya berani mencoba, setelah menyadari bahwa ketakutan mereka bisa dikendalikan dengan sugesti yang tepat.
Sejak saat itu, Aziz Amin semakin yakin bahwa hipnoterapi bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang cara menghadapi skeptisisme dengan tenang dan profesional.
Hipnosis bukanlah ajang pamer atau pertunjukan, tetapi sebuah alat yang dapat membantu banyak orang jika digunakan dengan niat yang benar. Pengalaman di Universitas Muhadi Setiabudi ini menjadi salah satu pelajaran berharga dalam perjalanannya meniti karir sebagai hipnoterapis—sebuah langkah awal menuju perjalanan yang lebih besar di masa depan.
#Hipnoterapi #DonorDarah #AzizAmin #PMIBrebes #PembuktianHipnosis #DariSkeptisMenjadiPercaya









